Pendiri dan Raja Minagkabau | Adat

Minangkabau

Pendiri dan Raja Minagkabau



ADITYAWARMAN
  
Adityawarman, di pandang sebagai pendiri dan raja Minangkabau yang terkemuka. Ia Ia di duga anak Dara Jinga, Puteri Melayu yang dikirim ke Singosari sesudah ekspedisi Pamalayu tahun 1292 dan kawin dengan Adwarman, salah seorang pangeran Singosari.  Mungkin ia dilahirkan di Majapahit pada tahun 1294 dan meningggal di saruaso, Kabupaten Tanah Datar pada tahun 1377.  Adityawarman mendapat pengalaman selama berada di Kerajaan Majapahit. Ia dipercaya menduduki jabatan Werdamentri, suatu jabatan tertinggi di Kraton kerajaan Majapahit. Ia mendirikan suatu bangunan pada gugusan Candi Tumpang di dekat Malang. Selama pemerintahan Jayanegara, Adityawarman dua kali menjadi Duta Majapahit, tahun 1325 dan 1331.

Pada tahun 1347 Adityawarman menjadi raja Minangkabau bergelar Maharajadiraja untuk seluruh Sumatera, dan memerintah selama 30 tahun. Adityawarman berhasil meletakkan hubungan di bidang kebidayaan, agama. Dan politik dengan negara-negara di Asia Tenggara. Hal ini diketahui dari arca armogapasha yang ditemui di Rambahan Sunagi Lansek Kabupaten Darmasraya. Pada lapik arca armogapasha itu diketahui bahwa arca itu dikirim oleh Maharaja Kertanegara dari Bhumi Jawa ke Suwarna Bhumi. Semua penduduk bumi Melayu yang dibahawah pimpinan raja Sri Maharaja Tribuana Muliawarmdewa bergembira ria menyambut rombongan ini yang berlangsung pada tahun 1296. Di balik patung ini tertera tulisan yang dibuat atas perintah raja Dityawarman pada tahun 1347, pertanda Adityawarman telah menjadi raja. Adityawarman menjadi Tuan negeri Kanakamedinindra atau raja Suwarnadwipa, nama untuk seluruh Sumatera. Ia menganggap telah menguasai kembali seluruh daerah Sriwijaya. 

 Daerah Minangkabau dipilihnya sebagai wilayah kekuasaannya karena daerah ini sangat strategis dapat menguasai jalur perdagangan emas, kapur barus, kemenyem, dan beberapa hsil bumi yang diekspor melalui bandar-bandar pantai barat Sumatera. Adityawarman dapat pula menguasai sungai Kampar dan Sungai Batang Hari. Ia sengaja menguasai daerah Minangkabau untuk menjaga agar raja-raja di daerah ini bersatu menghadapi persaingan dengan Cina. 

Adityawarman adalah penganut agama Budha Tantrayana aliran kalackraka seperti halnya Kertanegara. Putranya bernama Ananggawarman menyamakan pula dirinya dengan hewajra, tokoh dewa dalam agama Budha Mahayana di Tibet. Hewajra mempunyai sifat mengerikan seperti berdiri di atas sosok jenazah.  Upacara Hewajra dilakukan untuk mentasbihkan seorang pertapa pada tingkat terakhir. Penganut ajaran ini memuja dirinya sendiri dalam ujud dewa. Adityawarman mendirikan sebuah Biaro di Suwarnadwipa sebagai mustika, perhiasan keluarga Darmaja. Adityawarman melakukan upacara yang dipimpin seorang pendeta yang bernama Arnadwaja. Ia seorang yang paling banyak meninggalkan prasasti di Minangkabau. Pada mulanya ia tinggal diistananya di Kuburajo, kemudian pindah ke dekat Bukit Patah.  Dimasa Adityawarman dibangun Bandar Bapahek, saluran irigasi dibangunnya menembus sebuah bukit yang dipahat untuk mengairi sawah-sawah di lembah saruaso, tempat ia tinggal di sebuah pesantren. 

Di bidang pemerintahan, ia menerapkan struktur kerajaan Majopahit, namun dengan azas adat Minagkabau. Ia menetapkan Perpaih sebagai menteri yang dikatakan mengadakan pertemuan dengan kasih sayang (musyawarah). Sedangkan di bidang pemerintahan maupun pembangunan diserahkannya kepada Temenggung Kudanira. Di bidang keamanan, Adityawarman dengan tegas menyatakan harus tidak ada samun dan pembunuhan, sebagai mana tertlis dalam prasasti Kuburajo. Untuk penyelesaian masalah pemuda yang tidak mempunyai “tempat tinggal” di rumah gadang, ia membangun beberapa Biaro tempat belajar agama yang sakral, sperti di Pariangan, Saruaso, dan Baso. 

Majopahit menganggap Miangkabau sebagai daerah yang paling baik untuk mencegah ambisi imperialisme dari luar. Semua jalan darat, selat, maupun samudra Hindia dapat diawasi terus menerus oleh Adityawarman. Pada tahun 1347, ia mengirim utusan ke Cina diususul oleh misi yang dikirim setahun kemudian. Dari berita Cina diketahui bahwa pada tahun 1337, raja yang bernama Manacawuli, putra San fo tsi, mengirim duta memberitahukan ayahnya Maharaja Darmasraya meningal dunia. Ia meminta kaisar Cina agar memberi segel yang merupakan lambang pengakuan bahwa ia meniki takhta kerjaaan. Kaisar Han-Wu dari dinasti Ming mengirim seorang duta ke Tembesi membawa sebuah segel untuk ahli waris Manacuwali atau Sr Maharaja Muliawarmadewa. Ketika dalam perjalanan laut rombongan ini dicegat oleh tentara Jawa. 

Adityawarman menganggap tindakan kerabatnya di darmasraya  sebagai penghianatan. Pertama, memberontak, dan kedua, meminta bantuan Cina untuk mengakuinya sebagai pewaris kerajaan Sriwijaya yang dianggap sudah lenyap. Adityawarman yang berarti kehilangan jalan ke pantai timur, meskipun masih dapat melalui jalan ke daerah Riau. Kerajaanya telah terpisah dua, Minangkabau dan Darmasraya – Jambi. Pada tahun 1375, Aditywarman sudah tua sekali berumur 80 tahun. Pada saat itulah ia melakukan upacara pembebasan diri menurut ajaran agama Budha di Saruaso. Putranya, Ananggawarman, dinobatkannya dalam satu upacara Hewajra (prasasti Pagaruyung II) untuk mempersiapkan diri menjadi Maharajadiraja, pengganti ayahnya Adityawarman.

Related : Pendiri dan Raja Minagkabau

0 Komentar untuk "Pendiri dan Raja Minagkabau"