Masyarakat Minangkabau memiliki sistem demokrasi yang khas yaitu berdasarkan kekeluargaan. Sistem demokrasi yang khas tergambar lewat aturan-aturan adat kelarasan Koto Piliang dan Kelarasan Bodi Caniago. Meskipun pada kedua sistem itu terdapat perbedaan, namun masyarakat masing-masing kelarasan bersatu untuk membina adat minangkabau. Keduanya tetap memiliki dasar adat yang sama yaitu adat bakaum-babuah paruik, basuku-basako (berkaum berketurunan, bersuku bergelelar adat) tetap menurut garis ibu. Keduanya berpegang kepada semboyan adat sawah gadang satampang baniah, makanan luhak nan tigo (sawah besar sebibit benih, makanan luhak nan tigo)
Dalam tambo di kiaskan, bahwa antara kedua kelarasan sifatnya baragiah-agiah indak bacarai (saling memberi tidak bercerai). Tidak bercerai, karena walaupun kelarasan ada dua, tetapi tidak membawa perubahan terhadap dasar adat. Dari sistem adat Bodi Caniago dan adat Koto Piliang, terbentuklah satu peraturan yang di kenal sebagai Adat Alam Minangkabau.
Menurut penuturan kisah dalam tambo, terbentuknya sistem demokrasi minangkabau menurut aliran adat kelarasan Bodi Caniago dan kelarasan Koto Piliang, bermula dari terjadinya perbedaan antara datuak parpatiah nan sabatang dan datuak ketumanggungan. Datuak parpatiah nan sabatang berpendapat bahwa undang-undang yang sedang berlaku pada saat itu perlu di koreksi dan diluruskan.
Datuak ketumanggungan dan datuak parpatiah nan sabatang adalah dua orang bersaudara. Kedua orang ini mempunyai ibu yang sama tetapi ayah berbeda. Ayah datuak katumanggungan seorang raja, sedangkan ayah datuak parpatiah nan sabatang adalah pembantu utama raja. Usul datuak parpatiah nan sabatang di tanggapi oleh datuak katumanggungan. Saat itu datuak katumanggungan menjadi kepala kerajaan minangkabau. Persoalan yang di ajukan datuak parpatiah nan sabatang ternyata tidak bisa di selesaikan oleh mereka berdua saja, karena menyangkut kepentingan masyarakat banyak.
Datuak yang berdua ini kemudian mengundang pemuka-pemuka masyarakat untuk membicarakannya. usul datuak parpatiah nan sabatang di perbincangkan dan di bahas dalam sebuah kerapatan adat (Musyawarah adat). Usul datuak parpatiah nan sabatang menjadi dasar bagi sistem demokrasi kelarasan bodi caniago.
Rapat adat untuk membahas usul datuak parpatiah nan sabatang berlangsung di balai saruang. Rapat tersebut ternyata tidak melahirkan kesatuan pendapat. Sebagian peserta rapat ada yang mendukung usul datuak parpatiah nan sabatang, sedangkan sebagian lagi mendukung pendapat ketumanggungan. Pendapat datuak ketumanggungan yang di dukung oleh sebagian peserta rapat yang kemudian di kenal sebagai kelarasan koto piliang.
0 Komentar untuk "Sistem Demokrasi yang Khas Berdasarkan Kelarasan Bodi Caniago dan Kelarasan Koto Piliang"